Tampilkan postingan dengan label BUDAYA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Mei 2017

LIRIK KIDUNG MARMATI SERTA TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA


LIRIK KIDUNG MARMATI


  1. Ana kidung ing kadang Marmarti, among tuwuh ing kawasanira, nganakaken saciptane, kakang kawah punika, kang kumeksa sarisa-mami, anekakaken sedya, ing kawasanipun, adhi ari-ari ika, amayungi laku ing kawasaneki, ngenakaken pangarah.
  2. Punah Getih ing rahina wengi, ngrerewangi ulah kang kawasa, andadekaken karsane, Puser kawasanipun nguyu-uyu, sabawa-mami, anuruti panedha, kawasanereku, sangkep kadang ingsun papat, kalimane pancer wus dadi sawiji, tunggal sawujud ingwang.
  3. Mangkya kadang-ingsun kang umijil, saking marga hina pareng samya, sadina amor enggone, kalawan kadang ingsun, ingkang ora umijil saking, marga hina punika kumpule lan ingsun, dadi Makdum-sarpin sira, wewayanganing Zat reke dadya kanthi, saparan datan pisah.
  4. Yen angidung sarwi den pepetri, amemuleya golong lelima, takir ponthang wewadhahe, iwak-iwakanipun, ulam tasik rawa myang kali, lawan ulam bengawan, mawa gantalipun, rong supit winung-kusana, dadya limang wungkus artanya nyaduwit, sawungkuse punika.
  5. Tumpangena ponthang anyawiji, dadya limang wungkus ponthang lima, sinung sekar cepakane toro saponthang ipun, kembang boreh dupa ywa kari, memetri ujubira, dongane Majemu, poma dipun lakonana, saben nuju dina kalahiraneki, agung sawabe uga.
  6. Balik lamun ora den lakoni, kadangireku samya rencana, temah ura saciptane, sasedyanira wurung, lawan luput pangarahneki, sakarsanira wigar, anggagar tanpantuk, barang ing sakayunira, marma kaki eling-elingen sayekti, supaya waluyaa.


TERJEMAHAN KIDUNG MARMATI KEDALAM BAHASA INDONESIA :



Mantra yang diucapkan lisan
Hasil Transliterasi
Ana kidung ing kadang Marmarti
Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati
among tuwuh ing kawasanira
Memelihara berdasarkan kekuasaannya.
nganakaken saciptane
Apa yang diciptakan terwujud
kakang kawah punika
Air ketuban itu
kang kumeksa sarisa-mami
menjaga badan saya
anekakaken sedya ing kawasanipun
Menyampaikan kehendak dengan kuasanya.
adhi ari-ari ika
Adik ari-ari itu
amayungi laku ing kawasaneki ngenakaken pangarah
Memayungi perilaku berdasarkan arahannya.
Punah Getih ing rahina wengi ngrewangi ulah kang kawasa
Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa..
andadekaken karsane
Mewujudkan kehendak-Nya
Puser kawasanipun nguyu-uyu sabawa-mami
Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya.
anuruti panedha kawasanereku
Memenuhi permintaan saya.
sangkep kadang ingsun papat
Maka, lengkaplah empat saudara itu.
kalimane pancer wus dadi sawiji
Kelimanya sebagai pusat sudah jadi satu.
tunggal sawujud ingwang.
Menjadi satu tunggal dalam perwujudan saya
Mangkya kadang-ingsun kang umijil
Maka niat  yang sungguh-sungguh
saking marga hina pareng samya
Dari jalan yang sama
sadina amor enggone
Sehari mengikuti tempatnya
saking marga hina punika kumpule lan ingsun
Dari jalan yang terkumpul dan ingsun
dadi Makdum-sarpin sira
Menjadi petunjuk bagi dirimu
wewayanganing Zat reke dadya kanthi, saparan datan pisah
Mereka tidak akan pernah pisah
supaya waluyaa
Supaya hidup enak / mapan

Kawasan adalah kata yang diulang ulang.

Kawasanipun : makna kawasa dalam tradisi Jawa berarti semua yang ada di bumi ini adalah kehendah dan kuasa dari Tuhan yang Maha Esa, termasuk keberadaan saudara kembar dari manusia yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata.


Sabtu, 13 Mei 2017

KIDUNG MARMATI

MENGENAL BUDAYA KEJAWEN

KIDUNG MARMATI


     Assalamualaikum, kali ini saya akan menceritakan mengenai tugas saya ketika masih kuliah di IKIP PGRI Madiun. Sekarang sudah berganti nama menjadi UNIPMA. Saya masih ingat kala itu saya duduk di semester 7.
Di semester inilah saya dikenalkan dengan mata kuliah FOKLOR. Mata kuliah yang mana mengkaji tentang kebudayaan yang diwariskan secara tradisional baik lisan maupun tulisan.
Saya mendapat tugas dari Dosen saya (
Yunita Furinawati, S.Hum) untuk meneliti kebudayaan yang ada di daerah saya, tepatnya di Jawa timur, Kota Madiun.
     Berkat matakuliah ini saya mengenal salah satu kebudayaan masyarakat Jawa, yang salah satunya sangat kental dengan hal hal yang berbau "klenik" tapi syarat akan makna budi pekerti, yaitu KIDUNG MARMATI.
Saya memperoleh narasumber yang sangat terpercaya. Namanya adalah Pak Pri. Beliau juga adalah guru gamelan saya saat membuat Pentas Drama Tunggal "Teluh Brojo Rondo Girah" (Sobat bisa melihat Drama saya di Artikel saya sebelumnya).

Narasumber (Pak Pri Dalang)
Beliau tokoh masyarakat yang sangat memegang teguh adat istiadat serta kebudayaan jawa, atau istilahnya orang jawa bilang "orang Kejawen".
Selain bekerja di Kantor RRI Madiun, Pak Pri juga seorang Dalang wayang (orang yang memiliki keahlian khusus memainkan boneka Wayang). Itulah sebabnya saya memilih Pak Pri menjadi Narasumber saya untuk objek kajian "KIDUNG MARMATI".
Kenapa saya memilih objek ini, karena saya teringat akan cerita beliau saat kami berbincang bincang disalah satu tempat latihan Gamelan.
Beliau bercerita bahwa sebenarnya kita tiap manusia pasti memiliki saudara kembar. Mau tau kelanjutannya?
Berikut hasil kajian saya.

Saya ambil garis besarnya saja dari hasil laporan penelitian saya, berikut isinya,



ANALISIS KIDUNG MARMATI

(Berdasarkan Teori Albert B.Lord)



  • Objek yang dikaji : Kidung Marmati (Kidung yang digunakan untuk memanggil roh kakang kawah adhi ari-ari / berasal dari Jawa Timur)
  • Narasumber : Pak Pri (Dalang / tokoh masuyarakat yang sangat memegang kuat budaya kejawen)
  • Teori yang digunakan  : Teori Albert Bilord
  • Proses dokumentasi    : tanggal 11 Januari 2012 / pukul 20.30

Hubungan Objek dengan Masyarakat
  • Demografi
     Letak geografis kota Madiun, provinsi Jawa Timur berada di daerah dataran rendah yang kebanyakan penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan wiraswasta. Penduduk di daerah Jawa timur kebanyakan beragama Islam. Tetapi ada sebagian masyarakat yang masih memegang tradisi Jawa yang sangat tradisional. Mereka mencampur agama Islam dengan kebudayaan Jawa. Ini dikarenakan karena adanya pengaruh dari para penyebar agama Islam di daerah Jawa dimasa itu, yaitu Wali Songo. Orang-orang semacam ini biasa dikenal dengan kepercayaan Islam Kejawen. Mantra Kidung Marmarti berasal dari tanah Jawa, tepatnya berasal dari Kota Madiun, Jawa Timur. Bahasa yang digunakan pun juga bahasa Jawa yang sangat halus, orang-orang Jawa biasa menyebutnya dengan bahasa Krama alus.

  • Posisi objek
     Seiring dengan berkembangnya teknologi dan berkembangnya pola pikir masyarakat Indonesia, tradisi-tradisi daerah yang ada di Indonesia semakin ditinggalkan. Seperti tarian-tarian tradisional, lagu-lagu daerah khususnya mantra. Dalam masyarakat jawa tradisional yang masih memegang tradisinya atau biasa dikenal dengan sebutan masyarakat kejawen, mantra merupakan hal yang sudah tidak asing lagi. Tetapi bagi masyarakat modern yang sudah mengenal peradaban yang lebih tinggi, mantra dianggap suatu hal yang mistik, tabu, dan terkesan sangat primitif. Mantra Kidung Marmartisalah satunya. Mantra ini jarang sekali diketahui oleh masyarakat di daerah pulau jawa. Hanya orang-orang kejawen yang masih mengenal mantra semacam ini. Maka mantra Kidung  Marmarti sudah sangat jarang dikenal oleh masyarakat luas, terutama masyarakat asal daerah Jawa Timur pun tidak mengetahui pasti apa sebenarnya mantra Kidung Marmarti itu.



Pada proses Transmisi saya (proses mempelajari sastra lisan /  penampilan pertama. Dengan cara mengamati dan mendengarkan apa yang ditampilkan oleh narasumber)ketika saya mengamati beliau melakukan upacara membaca mantra Kidung Marmarti, narasumber terlebih dahulu menyiapkan:
1. 1 lilin china
2. 5 kembang kantil
3. beras
4. kendi kecil
5. kain hitam, dan
6. dupa hyo

Setelah semua persiapan telah lengkap, Narasumber memulai ritualnya yaitu dengan membakar dupa “hyo” terlebih dahulu, asap yang dikeluarkan dikibas-kibaskan disekitar tempat ritual, disusul kemudian membaca mantra tersebut dengan penuh ketenangan dan terfokus pada satu lilin yang berada di depan si pemantra, tanpa ada gerakan-gerakan yang merusak konsentrasi.
                        

DAN INI ADALAH ISI BESERTA HASIL YANG SUDAH SAYA TRANSLATE-KAN KEDALAM BAHASA INDONESIA DARI KIDUNG MARMATI